Rapat Pemegang Saham Peradaban Dunia

Table of Contents
Rapat Pemegang Saham Peradaban Dunia

Oleh: Suryadi Naomi

Di sebuah aula raksasa di Beijing, lampu-lampu kristal menggantung megah seperti sedang menyinari nasib umat manusia. Karpet merah terbentang panjang, bukan untuk rakyat biasa, melainkan untuk para “pemegang saham peradaban dunia.”

Dari kubu Amerika Serikat hadir rombongan elite dipimpin Donald Trump. Jalannya penuh percaya diri, seperti baru saja membeli separuh tata surya.
Di belakangnya berbaris para taipan teknologi, bos minyak, pemilik bank investasi, dan konglomerat pertahanan.

Koordinator lapangan:
Elon Musk.

Elon tampak sibuk membawa tablet digital berisi grafik masa depan manusia. Sesekali ia menunjuk layar sambil berkata:

“Kalau perang terlalu mahal, kita pindahkan saja konflik ke Mars.”

Semua tertawa kecil sambil mencatat.

Sementara dari kubu Tiongkok, hadir Xi Jinping dengan wajah tenang seperti guru besar filsafat ekonomi.
Di belakangnya duduk para oligarki kakap negeri tirai bambu. Kamera televisi beberapa kali menyorot Jack Ma yang sesekali tersenyum tipis, seolah tahu rahasia algoritma dunia.

Di layar utama tertulis besar:

“Rapat Umum Pemegang Saham Peradaban Dunia 2026.”

Agenda rapat pun dimulai.

Poin pertama:
“Bagaimana membuat rakyat dunia merasa bebas, sambil tetap cicil utang 30 tahun.”

Semua mengangguk serius.

Poin kedua:
“Menjaga demokrasi tetap hidup, tetapi jangan sampai terlalu hidup.”

Tepuk tangan terdengar panjang.

Trump kemudian berdiri memberi sambutan:

“Kita harus membangun dunia yang adil. Amerika siap berbagi… selama pembagian tetap lebih besar ke Amerika.”

Ruangan kembali bertepuk tangan.

Xi Jinping tidak mau kalah. Dengan suara tenang ia berkata:

“Tiongkok mendukung keseimbangan global. Semua negara berhak maju… asal jalur logistiknya lewat kami.”

Para delegasi mengangguk penuh hormat seperti mendengar ayat-ayat pembangunan.

Di sudut ruangan, para oligarki energi sedang menghitung harga minyak dunia sambil minum teh premium.
Sementara bos-bos teknologi membahas cara membuat manusia semakin betah menatap layar dibanding menatap tetangga sendiri.

Ada pula sesi khusus bertajuk:

“Masa Depan Umat Manusia dan Optimalisasi Konsumsi.”

Kesimpulan forum:
manusia modern terlalu banyak berpikir kritis di media sosial.
Karena itu perlu lebih banyak hiburan, diskon besar, dan video joget berdurasi 15 detik.

Di luar gedung, miliaran rakyat dunia tetap bekerja seperti biasa:
petani menanam,
buruh mengelas,
nelayan melaut,
pegawai mengejar deadline,
dan mahasiswa sibuk mencari sinyal WiFi.

Mereka tidak tahu bahwa jauh di Beijing, nasib harga minyak, suku bunga, kecerdasan buatan, bahkan mungkin harga tomat, sedang dibahas seperti laporan triwulan perusahaan.

Namun panitia forum menegaskan bahwa pertemuan itu bukan untuk menguasai dunia.

“Itu hanya dialog kemanusiaan,” kata juru bicara sambil keluar dari mobil listrik anti-peluru.

Dan begitulah dunia modern bekerja:
rakyat memilih pemimpin lewat pemilu,
sementara pasar memilih arah peradaban lewat ruang rapat berpendingin udara.

*****

Posting Komentar