Rupiah Anjlok, Rakyat Tetap Tenang: Daya Tahan Orang Kecil yang Sering Diremehkan
Oleh: MN Lapong
Di tengah berita rupiah melemah, pasar saham bergejolak, dan elite ekonomi panik membaca angka-angka kurs dolar, ada pemandangan menarik di lapisan bawah masyarakat Indonesia: rakyat kecil tetap menjalani hidup seperti biasa.
Bukan karena mereka tidak terdampak, bukan pula karena hidup mereka sejahtera. Justru sebaliknya, sebagian rakyat Indonesia sudah terlalu lama hidup dalam keterbatasan, sehingga memiliki daya tahan ekonomi yang unik, sesuatu yang sering tidak dimiliki kelas menengah perkotaan maupun elite bisnis.
Rakyat kecil mungkin memiliki daya beli rendah, tetapi mereka juga memiliki kemampuan bertahan tanpa banyak belanja.
Di desa-desa, kehidupan tidak sepenuhnya bergantung pada konsumsi modern. Ketika ekonomi melemah, masyarakat masih bisa:
- makan dari kebun sendiri,
- meminjam beras ke tetangga,
- berbagi hasil panen,
- menangkap ikan,
- atau sekadar mengurangi konsumsi tanpa merasa “jatuh miskin” secara psikologis.
Karena sejak awal mereka memang hidup sederhana.
Berbeda dengan masyarakat kota yang kehidupannya bergantung pada cicilan, konsumsi digital, gaya hidup, dan arus uang tunai harian. Sedikit saja ekonomi terguncang:
- kredit macet meningkat,
- PHK mulai terasa,
- stres sosial naik,
- bahkan konflik rumah tangga ikut bertambah.
Sementara di desa, ikatan sosial masih menjadi bantalan ekonomi yang nyata.
Ketika seseorang kesulitan:
- tetangga datang membantu,
- keluarga besar ikut menopang,
- warung masih memberi utang,
- kebun dan sawah menjadi cadangan hidup,
- gotong royong masih bekerja.
Inilah bentuk “jaminan sosial tradisional” yang tidak tercatat dalam statistik ekonomi modern.
Karena itu, kadang masyarakat bawah terlihat lebih tenang menghadapi krisis dibanding kelompok yang secara pendapatan lebih tinggi.
Bukan karena mereka lebih kaya, tetapi karena mereka terbiasa hidup dengan keterbatasan.
Dalam banyak krisis ekonomi Indonesia, mulai dari 1998 hingga pandemi Covid-19, desa sering menjadi tempat kembali masyarakat kota yang kehilangan pekerjaan. Desa menjadi ruang bertahan terakhir ketika ekonomi formal runtuh.
Artinya, kekuatan masyarakat Indonesia bukan semata pada besarnya uang yang dimiliki, tetapi pada kemampuan sosial untuk bertahan bersama.
Namun kondisi ini juga tidak boleh romantisasi berlebihan. Daya tahan rakyat kecil bukan alasan negara membiarkan kemiskinan terus berlangsung. Ketahanan hidup masyarakat desa lahir dari keterpaksaan sejarah, bukan karena sistem ekonomi sudah adil.
Rakyat bisa bertahan hidup tanpa banyak belanja, tetapi bukan berarti mereka tidak ingin hidup lebih layak.
Mereka tetap membutuhkan:
- pekerjaan yang stabil,
- pendidikan yang baik,
- layanan kesehatan,
- harga pangan terjangkau,
- dan perlindungan ekonomi yang adil.
Karena tujuan pembangunan bukan sekadar membuat rakyat mampu bertahan dalam krisis, melainkan membuat mereka bisa hidup bermartabat tanpa harus terus-menerus akrab dengan kesulitan.
*****
*****
(1).jpg)
Posting Komentar