Selat Hormuz Itu Milik Tuhan, Bukan Kavling Geopolitik

Table of Contents

Selat Hormuz Itu Milik Tuhan, Bukan Kavling Geopolitik

Oleh: Mubha Kahar Muang

Di sebuah sudut bumi bernama Selat Hormuz, kapal-kapal tanker melintas membawa minyak, gas, dan tentu saja… ego negara-negara besar. Setiap hari dunia menatap selat sempit itu seperti orang kampung menatap satu-satunya jalan menuju pasar. Bedanya, kalau jalan kampung rusak paling warga marah di grup WhatsApp. Kalau Selat Hormuz terganggu, harga bensin dunia langsung naik dan para ekonom mulai bicara sambil berkeringat.

Secara geografis, Selat Hormuz berada di antara Iran dan Oman, serta menjadi jalur penting perdagangan energi dunia. Jalur ini dilindungi hukum laut internasional dan dipandang sebagai jalur transit global.

Namun yang lucu adalah manusia modern sering lupa satu hal mendasar bahwa selat Hormuz bukan dibangun oleh Pentagon, bukan pula dicetak oleh Republik Islam Iran menggunakan printer 3D resolusi tinggi. Itu selat aslinya buatan Tuhan.

Tuhan yang menciptakan lautnya. Tuhan yang membentuk buminya. Tuhan yang mengatur arus airnya sejak manusia masih sibuk menemukan cara membuat api. Tapi sekarang manusia datang membawa kapal induk, rudal, drone, dan konferensi pers, lalu berbicara seolah-olah merekalah pemilik kosmos.

Amerika berkata: “Kami menjaga kebebasan navigasi.”

Iran berkata: “Ini wilayah strategis kami.”

Dunia hanya bisa menjawab:

“Maaf, kalian cuma numpang lewat di planet ini bung.”

Kadang geopolitik memang mirip rapat RT yang terlalu serius. Semua berebut portal jalan kecil sambil lupa tanahnya milik negara. Dalam kasus Hormuz, bahkan “negara” pun sebenarnya hanya penyewa sementara di bumi ciptaan Tuhan.

Lucunya lagi, manusia modern suka bicara soal “menguasai” laut. Padahal jangankan menguasai laut, menguasai harga cabai saja sering gagal. Hari ini negara adidaya bisa mengirim kapal perang ribuan kilometer, tetapi tetap tidak bisa menghentikan ombak datang sendiri ke pantai.

Saat ini, Selat Hormuz menjadi semacam simbol kesombongan manusia modern. Semua ingin menjadi penjaga gerbang dunia. Semua ingin tampak paling berkuasa. Padahal bumi terus berputar tanpa perlu izin Washington maupun Teheran.

Bahkan ikan-ikan di bawah laut mungkin bingung melihat manusia di atas permukaan saling ancam memakai senjata miliaran dolar hanya demi jalur tempat kapal lewat.

Seekor ikan mungkin berkata:

“Airnya dari Tuhan, lautnya dari Tuhan, kok mereka ribut seperti pemilik akuarium?”

Dan mungkin memang di situlah satire terbesar peradaban modern ini; manusia terlalu sibuk membagi-bagi bumi, sampai lupa siapa penciptanya.

Karena pada akhirnya, Selat Hormuz bukan milik Amerika. Bukan milik Iran. Bukan pula milik perusahaan minyak.

Selat Hormuz itu semata-mata only milik Tuhan, dan manusia hanya penumpang yang terlalu berisik di atas air-Nya.

*****

 

Posting Komentar