SISI LAIN PROGRAM PRABOWO
SISI LAIN PROGRAM PRABOWO
Oleh: Juliadi
Jumat pagi ini, saya kembali ngopi di warung kopi rakyat. Meski cuaca
gerimis tipis, saya tetap berangkat. Tujuannya sederhana: menikmati telur ayam
kampung setengah matang yang hanya bisa ditemukan di warung kopi tradisional.
Di kafe modern dan resto kopi mahal, menu seperti itu justru hampir
tidak tersedia. Di situlah saya mulai berpikir: warung-warung kopi tradisional
ternyata menyimpan denyut ekonomi rakyat yang luar biasa.
Bayangkan bila seluruh warung kopi tradisional di Indonesia menyediakan
stok telur ayam kampung setiap hari. Berapa juta butir telur dibutuhkan? Berapa
peternak kecil yang hidup dari rantai ekonomi sederhana itu?
Dari sudut pandang ide ekonomi kerakyatan, keberpihakan Presiden Prabowo
Subianto terhadap ekonomi rakyat mulai terlihat lebih nyata.
Program MBG (Makan Bergizi Gratis) dan Koperasi Desa Merah Putih adalah
dua program besar yang secara perlahan membentuk pasar baru bagi rakyat kecil.
Banyak orang awalnya melihat program ini hanya sebagai proyek politik. Namun
bila dicermati lebih dalam, ada desain ekonomi rakyat yang sedang dibangun.
Kedua program ini menyentuh langsung kehidupan masyarakat bawah. Memang
pada tahap awal pelaksanaannya banyak melibatkan tentara, polisi, birokrasi,
dan politisi. Tetapi pada akhirnya, yang diharapkan menjadi pelaku utamanya
adalah rakyat sendiri: petani, nelayan, peternak, UMKM, dan koperasi desa.
Banyak pengamat menyebut program ini sarat kepentingan politik karena
secara terbuka disebut sebagai program jangka panjang pemerintahan Prabowo.
Anggarannya pun sangat besar dan menyedot APBN dalam jumlah tidak sedikit.
Namun mari kita lihat dari sisi lain: apa dampaknya terhadap pertumbuhan
ekonomi rakyat?
Pada era Soeharto, Menteri Koperasi Adi Sasono pernah meluncurkan
program KUT (Kredit Usaha Tani). Dana triliunan rupiah disalurkan ke koperasi,
kelompok tani, dan berbagai lembaga pendamping.
Apa yang terjadi?
Banyak dana habis di tengah jalan. Petani tidak benar-benar merasakan
manfaatnya. Sebagian koperasi dan NGO bahkan terseret kasus hukum akibat salah
kelola bantuan.
Kini pola yang agak berbeda sedang dicoba oleh pemerintahan Prabowo.
Prabowo tampaknya berpikir sederhana tetapi strategis: petani tidak
cukup hanya diberi bantuan, tetapi harus dibuatkan pasar yang pasti. Di sinilah
MBG dan KOPDES menjadi penting.
Program MBG setiap hari membutuhkan beras, telur, ayam, ikan, daging,
sayur-mayur, buah-buahan, hingga kacang-kacangan dalam jumlah besar dan
berkelanjutan. Semua harus memenuhi standar gizi nasional.
Artinya, negara sedang menciptakan pasar raksasa bagi hasil produksi
petani, peternak, dan nelayan lokal.
Petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada tengkulak, supermarket,
atau jaringan distribusi besar yang selama ini lebih banyak menjual produk
industri milik korporasi besar dan oligarki.
Untuk menopang distribusi dan penampungan hasil produksi rakyat,
pemerintah menyiapkan Koperasi Desa Merah Putih sebagai simpul ekonomi desa.
KOPDES dan MBG dapat bersinergi: satu menyerap hasil produksi rakyat, satu lagi
menjadi pasar tetapnya.
Bahkan dalam jangka panjang, koperasi desa bisa berkembang menjadi pusat
industri makanan olahan rakyat. Jika perbankan ikut mendampingi pembiayaan dan
tata kelolanya, bukan tidak mungkin produk desa bisa masuk pasar ekspor.
Tentu ide besar seperti ini membutuhkan dukungan luas sekaligus
pengawasan ketat.
Karena sejarah menunjukkan, program sebesar apa pun bisa gagal bila
bocor, disalahgunakan, atau hanya menjadi proyek elite.
Di sisi lain, program ini juga mengandung dimensi politik yang sangat
kuat. Tetapi dalam demokrasi, itu hal yang sah. Semua pemimpin tentu ingin
meninggalkan warisan politik.
Pertanyaannya bukan apakah program ini politis atau tidak, melainkan:
apakah program ini benar-benar menggerakkan ekonomi rakyat?
Jika jawabannya iya, maka yang dibutuhkan adalah kritik untuk
penyempurnaan, bukan sekadar cibiran untuk menjatuhkan.
Sudah waktunya rakyat menjadi pelaku utama ekonomi nasional, sebagaimana
cita-cita para pendiri bangsa dahulu. Semangat ekonomi pribumi yang pernah
diperjuangkan Sarekat Islam perlu menemukan bentuk barunya di era modern.
Karena itu, program MBG dan KOPDES layak dikawal bersama agar tidak
berubah menjadi ladang korupsi baru.
Jika dijalankan dengan jujur dan profesional, program ini bisa menjadi
salah satu fondasi terpenting bagi kebangkitan ekonomi kerakyatan Indonesia.
Mungkin benar seperti yang pernah dikatakan Abdurrahman Wahid atau Gus
Dur: Prabowo adalah sosok yang cerdas dan memiliki keberpihakan kuat kepada
rakyat.
Tantangan terbesarnya justru terletak pada orang-orang di sekeliling
kekuasaan: apakah mereka mampu menjaga arah cita-cita itu, atau justru
membuatnya tersesat di jalan yang terang.
*****
.jpg)
Posting Komentar