Thucydides Trap: Ketika China Mengingatkan Amerika tentang Bahaya Sejarah
Oleh: Samir Pademmui
Di tengah gemerlap jamuan makan malam kenegaraan antara Xi Jinping dan Donald Trump, terselip sebuah kalimat yang jauh lebih tajam daripada diplomasi basa-basi para pemimpin dunia. Xi Jinping menyebut istilah Thucydides Trap, sebuah konsep sejarah yang menggambarkan bagaimana perang sering lahir ketika kekuatan lama merasa terancam oleh kekuatan baru yang sedang bangkit.
Kalimat itu tampak sederhana. Namun di baliknya tersimpan kegelisahan geopolitik terbesar abad ini - apakah Amerika Serikat dan China sedang berjalan menuju benturan yang pernah menghancurkan peradaban-peradaban besar sebelumnya?
Istilah Thucydides Trap berasal dari sejarawan Yunani kuno Thucydides yang menulis tentang Perang Peloponnesos antara Athena dan Sparta. Ia menyimpulkan bahwa perang menjadi hampir tak terhindarkan karena bangkitnya Athena menimbulkan ketakutan mendalam di pihak Sparta.
Hari ini, dunia seperti melihat sejarah itu hidup kembali.
Amerika Serikat telah lama berdiri sebagai penguasa utama dunia dalam ekonomi, militer, teknologi, hingga dominasi mata uang global. Namun dalam dua dekade terakhir, China tumbuh bukan lagi sekadar negara berkembang. Beijing berubah menjadi kekuatan raksasa yang mulai menyaingi Washington hampir di semua lini; perdagangan, kecerdasan buatan, manufaktur, energi, bahkan pengaruh diplomatik global.
Masalahnya, sejarah menunjukkan bahwa kekuatan dominan jarang rela berbagi panggung.
Di sinilah pidato Xi Jinping menjadi penting. Xi bukan sekadar berbicara tentang hubungan bilateral, melainkan sedang mengirim pesan strategis kepada Amerika bahwa jangan biarkan rasa takut melahirkan konflik besar.
China memahami bahwa kebangkitan mereka memicu kecemasan di Washington. Ketika perusahaan-perusahaan teknologi China dibatasi, chip semi-konduktor diembargo, dan Taiwan semakin dipersenjatai. Beijing melihat semua itu bukan semata-mata kebijakan keamanan, tetapi bagian dari upaya menahan kebangkitan China.
Sebaliknya, Amerika melihat ekspansi ekonomi dan militer China sebagai ancaman langsung terhadap tatanan dunia yang selama puluhan tahun berada di bawah pengaruh Barat.
Dua negara ini akhirnya terjebak dalam lingkaran saling curiga.
Yang paling berbahaya adalah sifat dari perang modern yang tidak selalu dimulai dengan dentuman peluru, namun bisa dimulai dari perang dagang, embargo teknologi, propaganda media, perang siber, hingga perebutan jalur logistik dan energi. Dunia hari ini sedang menyaksikan semua gejala itu.
Taiwan menjadi titik paling sensitif. Bagi China, Taiwan adalah harga diri nasional dan bagian dari prinsip “Satu China” yang tidak bisa ditawar. Bagi Amerika, Taiwan adalah benteng strategis untuk menahan dominasi China di Asia Pasifik. Ketika dua kepentingan besar bertemu di satu titik sempit, maka percikan kecil saja bisa menjadi api besar.
Ironisnya, baik Amerika maupun China sama-sama tahu bahwa perang terbuka akan menjadi bencana global. Ekonomi dunia bisa runtuh. Jalur perdagangan lumpuh. Krisis pangan dan energi membesar. Bahkan ancaman nuklir bukan lagi sekadar teori.
Karena itu Xi Jinping mencoba menawarkan narasi baru, bahwa dunia tidak harus mengulangi kutukan sejarah antara Sparta dan Athena. China ingin diakui tanpa harus diperangi. Namun di sisi lain, Amerika tampaknya belum siap menerima dunia multipolar di mana pengaruhnya tidak lagi absolut.
Di sinilah inti persoalannya, bukan sekedar soal ekonomi atau militer, tetapi soal psikologi kekuasaan negara adi-daya.
Kekuatan lama takut kehilangan dominasi. Kekuatan baru ingin mendapatkan pengakuan. Ketika rasa takut dan ambisi bertemu, sejarah sering berubah menjadi perang.
Dunia pernah melihat bagaimana rivalitas Inggris dan Jerman sebelum Perang Dunia I yang berujung kehancuran besar. Dunia juga pernah menyaksikan bagaimana perlombaan pengaruh selama Perang Dingin antara AS-Sovyet membuat umat manusia hidup di bawah bayang-bayang nuklir selama puluhan tahun.
Kini, sejarah seperti mengetuk pintu lagi, dengan wajah baru bernama rivalitas Amerika dan China.
Pidato Xi Jinping dalam jamuan makan malam itu sesungguhnya bukan sekadar diplomasi santun khas Timur. Itu adalah peringatan. Sebuah alarm bahwa dunia sedang berada di tikungan sejarah yang berbahaya.
Pertanyaannya: apakah para pemimpin dunia cukup bijak untuk belajar dari sejarah, atau justru kembali menjadi tawanan sejarah itu sendiri?
*****
.jpg)
Posting Komentar